Romantic Irony
Akhir2 ini beberapa teman mempercayakan kehidupan cinta mereka kepadaku, which is a great thing! Bagaimana seorang teman lelaki yang sudah lebih dari 50 kali berpacaran, masih mengetuk pintuku untuk nasihat dan saran. Kedengaran tidak masuk akal, tapi begitulah yang terjadi
Dan fakta bahwa aku, a hapless single most of 24 years of my life, menerima kehormatan itu kadang masih jadi hadiah besar yang aku terima dengan suka cita… Seorang teman yang lain, berbagi kegelisahan tentang perempuan yang hampir tiga minggu lalu ditembaknya. Awalnya ia menanyakan padaku alamat situs yang menyediakan kata2 indah penuh cinta. Tahulah aku kalau aku sedang berhadapan dengan seorang lelaki romantis yang mendambakan cinta. Ide tentang situs itu, aku tidak tahu kelanjutannya. Tapi yang jelas, aku memberikannya my own love lines. Salah satu bakat terbaik yang aku rasa aku miliki (!) –tanpa berniat menjadi sombong di sini- adalah menuangkan apresiasi dan esensi perasaanku mengenai cinta dalam serangkaian kata2. Semuanya berbahasa Inggris, sungguh lucu di mana kita bisa menjadi seorang romantis dengan bahasa yang bukan bahasa ibunya. Ya, aku merasa bebas mencurahkan kata-kata cinta itu yang muncul dari pemikiran seksama dan kedalaman jiwa (hehehe) dalam bahasa Inggris. Because if I write in Bahasa, I will leave my paper clean because I don’t have anything worth writing. Too corny
By the way, kata2 cintaku mendapat pujian dari teman ini *tawa bahagia*. Terima kasih, kawan! Tapi aku belum mendapat kabar apakah cintanya diterima atau tidak, promise to let you know later.
Kembali ke persoalan utama yang mau aku bicarakan, bagaimana seorang yang tergolong naif sepertiku dalam bercinta bisa membantu seorang kawakan, pakar, pro (terserah istilah apa yang mau kita gunakan) dalam hal percintaan? Sebelumnya, meet Adrian (nama samaran). 27 tahun, single, sejauh ini cukup berhasil di pekerjaannya, kepribadiannya cukup menarik, punya apartemen sendiri, dan punya BMW Z3 (you know that sporty car with two-passenger-seats only)
Poin terakhir sepertinya perlu kita underline and bold with large font! Hehehe… Di dunia yang begitu memuja materi ini, kepemilikan akan hal2 yang menyilaukan mata dan mengundang decak kagum adalah sebuah misi suci bagi banyak orang. Tapi menurut pengakuannya, dia justru mencari hal-hal lain yang disukai perempuan dalam dirinya, di samping faktor Z3 itu J Begitu cliche kesannya? Yah tapi kita lihat saja apakah perjuangannya berhasil… Dan percaya atau tidak, aku membantunya dalam proses itu. Sesuatu yang terdengar menggelikan karena dia mempunyai pengalaman dengan puluhan perempuan dengan berbagai jenis dan bentuk, and he claims that he’s got no clue with women?! Anyway, let’s just buy that idea otherwise I wouldn’t write this entry. Setelah merenungkannya, aku sadar apa dari diriku yang bisa membantunya. Hampir seluruh waktu kedewasaanku, waktu dihitung sejak aku mengenal ketertarikan dengan lawan jenis, aku memimpikan banyak momen mendebarkan, sikap Dolce Vita, kata2 yang diucapkan pada saat yang tepat, dan takaran yang pas untuk sebuah chemistry. Dan siapa yang menyangka, kalau, seperti kata-kata temanku tadi, aku bisa mewakili semua pikiran perempuan dan angan2 romantisnya. Dia tidak hendak menggeneralisir semua perempuan dalam satu kotak bodoh yang sama, tapi seperti yang aku sepakati bahwa kaum perempuan in general has shared ideas and somekind of acceptable standard of male’s behavior. Bagaimana kita dapat mengatakan kalau lelaki ini ‘sweet’ atau ‘down to earth’ atau membawa dirinya secara tepat. Straight to our hearts! Hal2 inilah yang dapat aku bagikan kepadanya. Ini hanya mungkin terjadi ketika aku menundukkan egoku (layaknya ego semua perempuan lain) untuk tidak menganggap aku unik dan punya kebutuhan2 khusus when it comes to relationship. Aku hanya mencoba berpikir sebagai perempuan dan menjawab pertanyaan2 dan keingintahuannya. Bagaimana tentang kesan pertama, apa yang diinginkan perempuan dalam pertemuan pertama, dan pertanyaan2 lain yang dianggapnya penting (dan aku selalu tertawa sebelum menjawab, karena ehm… halooo.. ini gak penting gitu loh!). Dan yang cukup mengejutkan untukku sendiri adalah aku belajar banyak dalam proses ini, untuk mengenal apa yang aku mau, tuntutan2ku dan sejauh mana ini realistis dalam sebuah angan2 tentang percintaan, dan belajar untuk konsisten ketika jawaban yang aku berikan terhadap pertanyaannya dihadapkan pada situasi di dunia nyata. Ini belum menyebut apa2 yang aku pelajari mengenai laki-laki, langsung dari sumbernya. Mengenali kapan mereka berbohong, kapan mereka ingin disanjung, kapan mereka butuh affirmasi, kapan mereka ingin dibiarkan sendiri, kapan mereka perlu sedikit dorongan untuk menentukan sikap ‘where are we going from here’, sesuatu yang banyak menyebabkan keresahan bagi banyak perempuan ketika partnernya tampak tidak kunjung memberi kepastian.
Dengan sejumput pengetahuan tentang ini dan itu, aku sadar kalau selama ini aku memang tidak realistis dalam memandang cinta. Aku memandangnya seperti pengunjung yang memandang dari luar, aku tidak pernah cukup berani mendorong diriku masuk ke dalam, karena semua bayangan dalam otakku akan kehilangan esensi dan relevansinya begitu ia menyentuh realita… Aku mengharapkan laki2 mengatakan hal2 yang tepat dalam porsi yang tepat pada saat yang tepat. Aku mengajarkan temanku hal2 yang akan membuatnya tampak ‘real’, tulus, spontan, genuinely charming, tanpa dibuat2. Sangat menyedihkan dan ironis karena semua ini memang memberikannya keberhasilan mendekati banyak perempuan, sehingga perempuan2 itu menganggapnya ‘berbeda’, somewhat ideal karena manusiawi sekali sebagai laki2, tanpa mengetahui bahwa semua itu hanya tipuan belaka… yang sayangnya diotaki dan ditulis skenarionya sebagian oleh sesama perempuan juga seperti aku…
Mungkin akhirnya, someday temanku ini akan berhasil menemukan pasangan hidupnya berkat saran2ku yang mujarab. Will they live happily everafter? Setelah aku tidak lagi memberikan tutorial, atau si lelaki akhirnya lelah dengan semua omong kosong yang aku sarankan dan memilih bersikap apa adanya? Aku selalu menekankan padanya, that at a certain point you must quit playing games and be a real man. Sementara untuk diriku sendiri, sebuah pertanyaan besar terus berkelibat di otakku: Akankah semua pendekatan ideal yang aku bayangkan akan benar2 aku hadapi di kehidupan percintaanku sendiri? Dan bagaimana aku tahu kalau dia memang benar2 seperti itu, bukan karena di belakangnya ada seorang mastermind perempuan yang mencoba skenario chemistrynya sendiri?
July 16th, 2006 at 2:41 am
“hati-hati dengan PRIA” it’s that what you’re trying to say girl….You know what : gw pikir disetiap “Buaya Darat” pasti ada mastermind like you…hehehe…scary deh..
Miss you fen!!
July 19th, 2006 at 3:04 am
bisa jadi pasien slanjutnya,bu?
July 26th, 2006 at 12:56 am
busyet dech sis…
kerjaan mu masih sama dari dulu sampe sekarang, tetep aja jadi penasihat cinta….heheheh…itu lah anehnya untuk kita2 yang ga nol pengalaman dalam pacaran….tapi selalu dimintai komentar dan jadi tempat curhat dalam hal yang namanya “cinta”…
tapi sekarang pasienmu hebat dech…dengan pengalaman 50kali pacarannya, tapi tetep aja butuh referensi dari kamu…
bener juga komentar nita…berarti di setiap buaya darat ada mestermind ce…
hehehehe…
keep believe in love…
when the perfect time coming, love will coming to ur life…
enjoy our life being a happy single…
love,
yesi
July 31st, 2006 at 5:52 am
Hwahahahaha…..!!!! Jadi ingat masa-masa kita membicarakan soal cowok sama-sama!! Kalo dipikir, kita berdua lucu sekali saat itu…
November 28th, 2008 at 9:55 pm
Casino 4930ca5b0b…
Casino 4930ca5b0b…